Selasa, 25 Februari 2014

Perang Amerika - Rusia di Ukraina


US-Russia

Perang pernyataan berlangsung antara Amerika dan Rusia tentang Ukraina. Rusia menganggap pemerintahan baru yang menggulingkan Presiden Yanukovych sebagai “ilegal”, sedangkan Amerika justru membelanya.

“Legitimasi seluruh organ kekuasaan yang berfungsi di sana (Ukraina) menimbulkan keraguan besar,” kata Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev di Moskow, Senin (24/2).
“Jika Anda mempertimbangkan orang-orang bersenjata Kalasnikov  dan berpenutup kepala hitam itu menjadi pemerintah, maka sulit bagi kami untuk bekerja sama dengan mereka,” tambahnya.


Sementara jubir kepresidenan Amerika Jay Carney, membenarkan langkah kudeta terhadap Yanukovych tersebut.

“Ketika ia (Yanukovych) memerintah sebagai pemimpin yang terpilih secara demokratis, ia telah menghancurkan legitimasinya dan kini ia tidak lagi aktif memimpin negara itu,” kata Jay Carney di Washington, Senin (24/2).

Medvedev mengecam keputusan negara-negara barat untuk mengakui pemerintahan baru Ukraina dan menganggapnya sebagai suatu kesalahan yang “mengganggu kesadaran”.

Lebih jauh Medvedev menyatakan bahwa Rusia tidak bisa berhubungan kerja dengan “para pemberontak”. Hubungan tersebut baru bisa dilanjutkan lagi saat Ukraina kembali memiliki pemerintahan yang “normal dan modern berdasarkan hukum dan konstitusi,” demikian sebut Medvedev.

Saat ini Rusia telah memanggil pulang dubesnya dari Ukraina.

Agen CIA Tertangkap dalam Demonstrasi Berdarah Ukraina


Dalam video tersebut terlihat seorang agen CIA tertangkap aparat keamanan Ukraina dalam demonstrasi di Ukraina 18 Februari lalu.

Dari identitas yang berhasil didapatkan aparat keamanan Ukraina, sang agen tersebut berasal dari divisi khusus Special Activities Division (SAD), sebuah divisi dalam National Clandestine Service (NCS) yang merupakan bagian dari Central Inteligent Agency (CIA), yang bertanggung-jawab untuk melaksanakan operasi-operasi rahasia yang dikenal dengan sebutan ”special activities”. Demikian keterangan BIN.

Dalam SAD, ada dua kelompok terpisah, SOG untuk  operasi paramiliter taktis dan PAG untuk aksi-aksi politik rahasia.

Special Operation Group (SOG) atau Kelompok Operasi Rahasia adalah departemen khusus di dalam SAD yang bertanggung jawab untuk operasi pengumpulan intelijen-intelijen asing dari negara-negara dan wilayah yang berseteru, dan juga koordinator semua aksi militer kelas tinggi atau operasi intelijen dimana Amerika tidak ingin terlihat terang-terangan bekerja-sama. Karenanya, anggota unit yang juga disebut petugas operasi paramiliter dan petugas berkeahlian khusus ini biasanya tidak berseragam resmi yang bisa menunjukkan bahwa mereka terkait dengan pemerintahan Amerika.

Jika mereka membelot saat berada dalam suatu misi, maka pemerintah Amerika bisa menyangkal dan mengelak dengan mudah.

SOG umumnya dianggap sebagai pasukan operasi khusus yang paling rahasia di Amerika. Kelompok ini merekrut anggotanya dari unit-unit misi khusus terkait seperti Delta Force, DEVGRU dan ISA, juga pasukan operasi khusus Amerika yang lain seperti USNSWC, MARSOC, USASF dan 24thSTS.

Video yang dirilis BIN tersebut di atas bisa dilihat di sini:


Sebagaimana disebutkan oleh Paul Craigh Roberts dalam artikelnya di Globalresearch tgl 17 Februari lalu, Amerika telah mengeluarkan dana tidak kurang dari $5 miliar untuk membangun jaringan politik pro-Amerika di Ukraina untuk menjadikan Ukraina sebagai negara “demokrasi”, sekaligus menjadi pangkalan rudal-rudal Amerika yang diarahkan ke Rusia.
demo ukraina

Bagi yang pernah belajar ilmu politik tentu tidak akan mengerti, mengapa para demonstran di Ukraina tetap saja melancarkan aksi-aksi yang justru semakin hari semakin keras. Padahal pemerintah Ukraina telah memenuhi hampir semua tuntutan mereka tanpa memaksakan satu syarakatpun yang memberatkan. Mulai dari pengunduran diri perdana menteri dan tawaran jabatan eksekutif bagi para pemimpin demonstran, pencabutan undang-undang larangan demonstrasi hingga pemberian amnesti bagi para demonstran yang ditangkap.

Dalam ilmu politik diajarkan bahwa politik adalah “seni tawar menawar untuk meraih kekuasaan”. Maka apa yang dilakukan para demonstran di Ukraina telah melenceng jauh dari prinsip dasar politik.

Jawaban baru bisa ditemukan jika kita mengetahui apa yang dikatakan Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland dalam pertemuan Nasional Press Club bulan Desember 2013 lalu, bahwa Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk “mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina” selain untuk memberikan “masa depan yang layak bagi Ukraina.” 
(http://www.informationclearinghouse.info/article37599.htm)

Nuland pula, pejabat yang “tertangkap tangan” membicarakan nama-nama calon pejabat tinggi Ukraina mendatang jika pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych berhasil ditumbangkan oleh para demonstran, setelah pembicaraan teleponnya dengan dubes Amerika di Ukraina bocor ke publik bulan lalu.

Johannes Loew dari situs elynitthria.net menulis tentang sebagian dari dana yang dikeluarkan Amerika untuk “mengorganisir jaringan” di Ukraina:

”Aku baru saja kembali dari Ukraina. Rata-rata mereka di sana (demonstran) mendapat 100 grivna, 300 untuk yang mahasiswa.”

Menurut Paul Craig Roberts, mantan Asisten Menkeu Amerika dan editor The Wall Street Journal, dalam artikelnya berjudul “US and EU Are Paying Ukrainian Rioters and Protesters” di situs Globalresearch tgl 17 Februari lalu, apa yang dimaksud Nuland dengan “masa depan yang layak bagi Ukraina” di bawah kekuasaan Uni Eropa sebenarnya adalah untuk menjarah Ukraina seperti yang telah mereka lakukan terhadap Latvia dan Yunani, serta untuk menjadikan Ukraina sebagai tempat pangkalan rudal AS melawan Rusia.

Nyatanya media Amerika dan Eropa tidak pernah menyinggung dana $5 miliar itu dan justru memberitakan bahwa pemerintah Ukraina membayar para pengunjuk rasa pendukung pemerintah. (http://www.usatoday.com/story/news/world/2014/02/16/ukraine-government-protests/5435315/). Kalau pun hal ini benar, tentu pemerintah Ukraina akan kesulitan untuk menandingi $5 milyar yang digelontorkan Washington.

Seperti pernah ditulis Karl Marx, uang mengubah segalanya menjadi komuditas untuk dijual atau dibeli. Tentu tidak mengherankna bila ada beberapa  pengunjuk rasa yang bekerja untuk kedua belah pihak di waktu yang sama.

Namun demikian tidak semua pengunjuk rasa adalah orang-orang bayaran. Banyak juga dari mereka adalah orang-orang lugu yang tertipu untuk ikut turun ke jalan karena merasa bahwa mereka tengah mendemo pemerintah Ukraina yang korup. Pengunjuk rasa Ukraina berfikir bahwa mereka bisa selamat dari korupsi dengan bergabung bersama Uni Eropa. Sayangnya pengunjuk rasa yang tertipu ini tidak tahu  laporan Komisi Uni Eropa untuk Urusan Rumah Tangga pada tanggal 3 Februari, tentang korupsi di dalam Uni Eropa.

Laporan itu menyebutkan bahwa korupsi politik-bisnis mempengaruhi 28 negara anggota Uni Eropa dan menguras ekonomi Uni Eropa sebesar $16,2 milyar per-tahun.  (http://www.aljazeera.com/news/europe/2014/02/eu-report-corruption-widespread-bloc-20142313322401478.html). Menurut laporan Bank Dunia, biaya ekonomi yang dikorupsi dalam Uni Eropa bahkan hampir sebesar PDB Ukraina.

Jadi jelas sudah, bahwa Ukraina tak akan selamat dari korupsi bila bergabung dengan Uni-Eropa. Bahkan Justru, Ukraina akan mengalami korupsi yang lebih parah.

Mungkin orang orang lugu itu bisa diuntungkan dari pelajaran yang akan mereka terima nantinya begitu negara mereka dikuasai Brussels dan Washington.

Menurut Paul Craigh Robert apa yang terjadi di Ukraina adalah “sebuah kebodohan”, sama seperti saat Amerika dan Eropa memainkan sebuah permainan besar dan membuat kita merasakan Perang Dunia I. Namun kali ini Perang Dunia III akan jadi perang terakhir. Upaya Washington untuk menguasai setiap kesempatan guna membangun hegemoninya ke seluruh dunia telah mengantar kita semua pada perang nuklir. Paul merefer pada Rusia yang kemungkinan tidak akan tinggal diam melihat “sekutu”-nya, Ukraina jatuh ke tangan Amerika.

“Seperti Nuland, sebuah prosentasi signifikan dari populasi Ukraina Barat menunjukkan mereka adalah Anti-Rusia. Tapi emosi warga Ukraina yang tersulut uang Washington  tidak seharusnya merubah sejarah. Tidak akan ada sejarawan yang tersisa yang bisa mendokumentasikan betapa bodoh dan dungunya warga Ukraina menyebabkan kehancuran dunia,” tulis Paul Craig Roberts dalam artikelnya.
SusanRiceMTP


Karena alasan itulah maka Amerika, melalui Penasihat Keamanan Susan Rice, mengingatkan Rusia untuk tidak melakukan intervensi militer atas Ukraina. Hal itu disampaikan Susan dalam wawancara acara “Meet The Press” di televisi NBC, hari Minggu (23/2).

“Itu akan menjadi kesalahan besar. Bukan kepentingan Ukraina, Rusia, Eropa atau Amerika untuk melihat negeri itu pecah. Bukan kepentingan siapapun untuk melihat kerusuhan kembali dan situasi bertambah buruk,” kata Susan.

Ketika disinggung tentang kemungkinan Rusia akan memandang Ukraina dalam perspektif “perang dingin” dengan barat, Sudan menjawab hal itu “mungkin saja”. Namun menurut dia, perspektif seperti itu tidak lagi sesuai dengan aspirasi rakyat Ukraia, meski ia juga mengakui terdapat hubungan sejarah dan budaya yang tinggi di antara sebagian negara Ukraina dengan Rusia.

Pro-Rusia Demo di Ukraina Timur

Sementara itu pada hari Minggu (23/2) penduduk kota Kerch yang terletak di Ukraina timur dan berdekatan dengan Rusia, melakukan aksi demonstrasi dengan menurunakan bendera Ukraina dengan bendera Rusia.

Penduduk kota ini, sebagaimana sebagian besar kota-kota di wilayah timur dan tenggara Ukraina, memiliki hubungan kultural yang kuat dengan Rusia, bahkan mereka menggunakan bahasa Rusia dalam kesehariannya.

“Intervensi (barat) yang memalukan!”, “Krimea untuk Kedamaian”, “Fascisme Dilarang!” Demikian bunyi beberapa spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa.

Protes tersebut terjadi sehari setelah polisi setempat bentrok dengan massa pro-Uni Eropa. Pengunjuk rasa meminta mereka untuk pergi.

Aksi-aksi tersebut terjadi pada saat berbagai rumor menyebutkan presiden terguling, Victor Yanukovych bersembunyi di Ukraina timur setelah gagal menyeberang ke Rusia. Namun keberadaan pastinya masih belum jelas hingga sekarang.

Pada hari Sabtu (22/2) Yanukovych mengatakan bahwa ia telah dipaksa untuk meninggalkan Kiev oleh apa yang disebutnya sebagai “vandalisme, kriminal dan kudeta.”

“Saya tidak ingin meninggalkan negeri ini. Saya tidak ingin mundur. Saya presiden yang syah,” katanya dalam rekaman video yang disiarkan televisi lokal.

Pada hari yang sama, pelaksana presiden yang ditunjuk parlemen sepeninggalnya Yakunovych, Oleksander Turchinov, menyerukan parlemen untuk segera membentuk pemerintahan sementara pada hari Selasa (25/2) hingga dilaksanakannya pemilu bulan Mei mendatang.

Source : 
LiputanIslam.com, beforeitsnews, press tv, bbc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan pesan dan komentar anda...