Rabu, 12 Februari 2014

Najd Tempat Khawarij / Fitnah: Di Najd atau Di Iraq?


Ummat Islam banyak yang tidak suka saat mereka difitnah sebagai Ahlul Bid’ah, Sesat, Penyembah Kuburan, Musyrik, bahkan kafir oleh Wahabi. Bahkan ada yang dibunuh. Oleh karena itu mereka balik mngkritik Wahabi. Ada pun Wahabi yang menamakan dirinya macam-macam dari Muwahidun, Salafi, Ahlus Sunnah (Tanpa kata Jama’ah) justru marah. Mereka merasa mereka dan syeikh mereka, Muhammad bin Abdul Wahhab yang lahir di Najd difitnah oleh “Musuh-musuh Islam.”

Siapakah yang benar? Nabi menyebut Najd, tempat kelahiran pendiri Wahabi sebagai tempat fitnah. Ini hadits-haditsnya. Silahkan baca dengan seksama. Bebaskan diri anda dari taqlid. Gunakan akal pikiran anda untuk memahaminya. Jika pun bertanya pada ulama, jangan tanya pada kelompok anda saja. Tanya pada Jumhur Ulama agar tak tersesat:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Pada hadits di atas disebut ada orang Najd yang meminta Nabi agar memberkahi Najd. Saat itu dakwah Nabi belum mencapai Iraq. Selain itu ucapan Nabi tentang tanduk setan (قرن / qorn) itu sesuai dengan miqat haji orang-orang Najd di QORN yang artinya TANDUK. Jelaslah bahwa Najd yang disebut Nabi adalah Najd yang kita kenal sekarang. Bukan Iraq! Jika pun orang Iraq yang hadir, tentu mereka minta agar IRAQ yang diberkati. Bukan Najd!


Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

Posisi Nabi saat hadits yang menyebut tempat fitnah ada di sebelah TIMUR dan tempat MATAHARI TERBIT adalah di MADINAH. Kita harus paham dasar-dasar ilmu Geografi atau Ilmu Bumi agar bisa paham. Madinah dan Riyadh (Najd) letaknya sejajar sekitar 24 derajad lintang utara. Sementara Kufah / Najaf terletak di 32 derajad lintang utara. 8 derajad lebih utara dari kota Madinah. Sebagai perbandingan, Amman, Yordania yang ada di utara Madinah sejajar dengan Kufah yaitu di 32 derajad lintang utara. Matahari itu paling tinggi posisinya berada di 23,5 derajad lintang utara pada tanggal 21 Juni sebelum akhirnya bergerak ke selatan. Jadi matahari terbit di Madinah itu posisinya dari arah Najd yang persis ada di sebelah timur Madinah. Tidak mungkin dari Iraq yang ada di utara Madinah.

Dari sini kita paham bahwa Najd yang dimaksud adalah Najd sekarang yang memang ada tepat di sebelah timur Madinah. Bukan Iraq yang berada di utara.

Map of Najd
Map of Najd


Anda bisa melihat berbagai peta kota Madinah, Najd, dan Iraq baik dari segi topografi sehingga paham daerah yang tinggi (Najd) dan yang rendah (bukan Najd), serta tempat yang di timur kota Madinah itu apa.

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)

Hadits Nabi di atas berulang-kali menyebut Tanduk Setan (Qorn Syaithon). Dan Miqat Haji penduduk Najd di Qarn (Tanduk). Sementara Miqat penduduk Iraq di Dzatu “Irq. Jelas bukan kalau Najd dan Iraq adalah 2 nama yang berbeda yang menunjukkan 2 tempat yang berbeda. Jadi tidak bisa ditakwil-takwilkan jadi Iraq adalah Najd. Tidak betul itu!

Berbagai hadits di atas tentang Najd sesungguhnya menunjukkan Najd itu adalah Najd yang dikenal umum baik di zaman Nabi mau pun sekarang. Bukan tempat lainnya sebagaimana ditafsirkan Ibnu Taimiyyah ada di Kufah. Apalagi Najd yang dikenal di zaman Nabi di hadits tersebut disebut ada di TIMUR kota Madinah dan tempat terbitnya matahari. Tak mungkin penduduk Madinah melihat matahari terbit dari arah Kufah. Najd sekarang pun memang selain di Timur Madinah juga merupakan dataran Tinggi (762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut). Di hadits Sunan Nasa’i no 2656 Nabi menyebutkan tempat miqat bagi penduduk Iraq dan penduduk Najd. Jelas Iraq dan Najd adalah 2 tempat yang berbeda.

Sebaliknya Kufah yang juga disebut An Najaf ternyata terletak di dataran rendah di lembah sungai Efrat. Jadi tidak mungkin Ibnu Taimiyyah berkata demikian. Bisa jadi ulama Wahabi memang suka mengubah-ubah tulisan sebagaimana disinyalir oleh Syekh Idahram dan juga beberapa ulama lainnya. Sehingga ada ulama yang bilang kalau beli kitab kuning sebaiknya beli di Yaman atau Mesir. Jangan di Arab Saudi sebab sudah dirubah-rubah oleh Wahabi.

Coba lihat peta Kufah (An Najaf) yang berada di daerah hijau (dataran rendah). Bukan kuning yang merupakan tanda dataran tinggi:
Topographic Najd and Iraq Map

Apalagi Muhammad bin Abdul Wahab dikenal juga dengan Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi. Jadi bagaimana lagi mau berkelit atau mentakwil-takwilkannya dengan cara lain sehingga Najd yang dimaksud Nabi itu berbeda dengan Najd yang dikenal masyarakat Arab baik di zaman dahulu atau pun sekarang?

Ada pernyataan kelompok Salafi Wahabi mengenai celaan terhadap kota Najd yang merupakan tempat kelahiran pendiri paham Wahabi: Muhammad bin Abdul Wahab. “Apa salahnya jika lahir di Najd? Apakah otomatis akan jadi Khawarij/Sesat?”

Tidak salah memang. Apalagi jika memang orang tersebut memurnikan ajaran Islam dengan memurnikan Tauhid dan menghidupkan Sunnah. Yang jadi masalah adalah jika cara dakwahnya akhirnya menganggap sesat/kafir sesama Muslim bahkan ulama apalagi sampai membunuh sesama Muslim sehingga timbul Fitnah. Jika itu sampai terjadi, tentu orang tersebut merupakan Khawarij pembuat Fitnah yang disebut Nabi berasal dari Najd di sebelah timur kota Madinah (arah tempat terbitnya matahari di kota Madinah).

Kalau kita kaji Al Qur’an dan Hadits dan Sejarah Muhammad bin Abdul Wahhab, niscaya kita tahu bahwa perkataan dan perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Coba lihat fitnah Muhammad bin Abdul Wahhab yang menuduh ummat Islam (termasuk di Mekkah dan Madinah) lebih Musyrik daripada kaum Musyrik penyembah berhala. Tersinggungkah anda jika difitnah sbg Musyrik?
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu
http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-1.html

MBAW memfitnah ummat Islam di Mekkah, Madinah, dan kota2 lain di jazirah Arab sebagai lebih Musyrik daripada orang Kafir Quraisy Mekkah dulu. Ini jelas bertentangan dengan firman Allah untuk tidak mengolok-olok dan menggunjing sesama Muslim [Al Hujuraat 11-12]

Menyebut Muslim sebagai Musyrik sama dengan memfitnah Muslim sebagai Murtad. Menurut Islam, hukuman bagi orang-orang Murtad adalah mati. Tak heran jika Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya akhirnya memerangi dan membunuh orang Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [An Nisaa' 94] 

Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
 
Di situ juga disebut bagaimana MAW bekerjasama dengan Raja Arab guna memerangi musuhnya:
Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkerjasama secara sistematis dan saling menguntungkan dengan keluarga Saud untuk menegakkan Islam.
http://www.arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html
Padahal Nabi memerintahkan agar menjauhi para penguasa/raja:

Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.” (Riwayat Ahmad).
Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Meski hadits diatas mencerca ulama yang bergaul-erat dengan penguasa, pada dasarnya jika untuk memberi nasehat kebaikan tidak masalah. Tapi jika justru memberi keburukan sehingga si Raja tersebut gemar berperang membunuh sesama Muslim, niscaya itu tidak baik.
Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupanya terlibat dalam PEPERANGAN dengan kepala-kepala suku lainnya selama 28 tahun, secara perlahan namun pasti memasuki masa kejayaannya…
Keluarga Ibnu Saud, sebagai pendukung dan unsur utama garakan ini segera menaklukkan hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Gerakan Wahabi ini akhirnya menjadi mazhab fikih resmi keluarga Saudi yang berkuasa
http://www.arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html
Itu adalah tulisan dari website Wahabi, arrahmah.com. Jika kita membacanya tidak dengan kritis/tidak pakai akal, niscaya kita tidak paham. Tapi jika kita menggunakan akal, niscaya kita tahu kalau Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupannya TERLIBAT PEPERANGAN dgn “KEPALA SUKU” lain selama 28 TAHUN itu sebetulnya memerangi dan membunuh orang-orang Islam. Boleh dikata sejak zaman Sahabat seluruh Jazirah Arab itu sudah Islam. Kalau disebut perang dengan kepala suku, artinya Ibnu Saud yang dibantu MBAW itu memerangi/membunuh ummat Islam di jazirah Arab selama 28 tahun termasuk Mekkah dan Madinah yang mereka “TAKLUKKAN”. Bahkan lebih karena diteruskan oleh penggantinya. Tidak ada di situ disebut perang melawan Inggris.
Nabi itu utusan Allah. Beliau bicara tidak sembarangan. Tapi dari Wahyu Allah. Banyak hadits tentang Fitnah (Pembunuhan) dari Najd. Baik saat ada orang Najd datang ke Nabi, Najd dari arah Timur dan Najd dari arah matahari terbit. Lintang Utara Madinah dgn Najd (mis: Riyadh) sejajar=24 derajad lintang utara. Matahari paling utara di 23,5 derajad lintang utara. Sementara Syams atau Iraq itu 32 derajad Lintang Utara lebih. Baik Syams mau pun Iraq lebih dekat disebut Utara (Syimal) ketimbang Timur.

Selain itu ada hadits Miqat orang Iraq di Zati ‘Irq sedang Najd di Qorn. Qorn ini artinya TANDUK. Identik dgn hadits tentang Qornus Shaython. Tanduk Setan. Najd itu artinya tanah tinggi. Sesuai dgn Najd yg tingginya sekitar 1000 meter di atas laut. Ada pun Iraq itu tanah rendah. Kurang dari 50 meter.

Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:  Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)

Cuma ya terserah. Mau percaya syukur, tidak percaya juga silahkan. Peta ini insya Allah jelas bagi orang2 yg bertakwa

Source : http://kabarislam.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan pesan dan komentar anda...