Senin, 10 Februari 2014

Arab Saudi Ketakutan Akan Kekalahan

Sayyid Hassan NAsrullah
Sayyid Hasan Nasrallah

Dalam pidato Sayyid Hassan Nasrallah di bulan September 2013, Sekjen Hizbullah tersebut menyerukan kepada Arab Saudi, Turki dan negara-negara Teluk yang mendukung pemberontak di Suriah untuk merubah sikap mereka. Telah hampir tiga tahun perang berkecamuk di Suriah dan sudah lebih dari seratus ribu nyawa melayang, solusi damai harus segera diupayakan sebelum terlambat.
“I call on Saudi Arabia, Turkey, and other Gulf states to revise your stance. You won’t reach anywhere by relying on a military victory. Put this hatred (for Hezbollah) aside and think with your minds. Think about your interests, the interests of the region, the survival of the region.”
“For two and a half years, they used everything in their disposal to control Syria and they failed. Of course [Hezbollah] are foreigners, we are not Syrian, but [what about] the tens of thousands of foreign fighters who you brought from all over the world? Are they occupying Syria?”
“Saya serukan kepada kalian wahai Arab Saudi, Turki, dan negara-negara  Teluk agar kalian merubah sikap. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dengan mengandalkan kekuatan militer. Lupakan sejenak kebencian Anda kepada Hizbullah dan berpikirlah dengan jernih. Pertimbangkanlah tentang kepentingan dan kestabilan kawasan.”
“Telah dua setengah tahun lebih berlalu mereka menggunakan segala sesuatu untuk mengontrol Suriah dan mereka gagal.  Memang, kami Hizbullah adalah tentara asing, kami bukan berasal dari Suriah, lalu bagimana halnya dengan puluhan ribu pejuang asing yang Anda kirimkan dari seluruh dunia? Apakah mereka penduduk Suriah?”


Saat itu, kekalahan Arab Saudi masih berupa pernyataan dari sekjen Hizbullah, bukan pengakuan langsung dari pihak Arab Saudi. Namun hari ini kekalahan itu, benar-benar terungkap. Menjelang perundingan Jenewa II, Arab Saudi sangat berambisi bisa merubah kondisi di medan pertempuran. Pemberontak yang didanai Arab Saudi, melancarkan serangan militer ke selatan dan barat Damaskus – termasuk area strategis Qalamoun yang membentang di sepanjang perbatasan Lebanon – serta di Deraa dan Aleppo, namun serangkaian serangan itu tidak sukses karena kokohnya pertahanan Tentara Suriah yang bahu membahu bersama Tentara Pertahanan Nasional dan Hizbullah. Hanya di beberapa titik di Allepo yang berhasil mereka kontrol, namun sama sekali tidak berarti signifikan secara keseluruhan.

Dan sikap terkini Arab Saudi terhadap perundingan Jenewa II yang buntu, dan pertikaian di kubu pemberontak menyiratkan; Arab Saudi kalah ! Ya, meski tidak blak-blakan mengakui kekalahannya, peristiwa demi peristiwa dalam beberapa waktu terakhir ini telah berbicara banyak.

Jihadis menyerahkan diri di al Rayyan
Jihadis menyerahkan diri di al Rayyan

Arab Saudi kini sudah tidak lagi menyebut-nyebut ‘jihad Suriah’ secara detail dan malah cenderung mengabaikan para jihadis di Suriah yang merupakan hasil perselingkuhannya dengan Barat. Disinyalir, ini adalah tekanan dari Amerika Serikat, yang hendak membatalkan kunjungannya ke kerajaan pada bulan Maret. Jika Arab Saudi mengabaikan jihadis (maksudnya tidak lagi membiayai dan menyuplai logistic mereka di Suriah), maka besar kemungkinan jihadis ini akan kembali ke negara asal mereka. Apakah ini sebuah kebetulan dengan fakta adanya 191 jihadis di Al-Rayyan, yang menyerahkan diri dan menerima amnesti yang ditawarkan pemerintah Suriah? Mereka yang menerima pengampunan, diizinkan kembali hidup dengan normal kembali di rumah mereka, dengan persyaratan tidak akan pernah lagi mendukung terorisme di masa mendatang.

Arab Saudi sepertinya mulai ‘mendengar’ seruan Sayyid Hassan Nasrallah untuk merubah sikapnya, dengan mengeluarkan dekrit, sebagaimana yang disampaikan oleh kedutaan di Ankara;
“The Saudis are afraid of an uncontrolled return of those fighters to their country. Two conditions have been set. The first would be a return, under security precautions via the Saudi embassy in Turkey, as mentioned by the ambassador in Ankara on February 6. The second means their dispersal along the frontlines, a repeat of what Saudi fighters in Afghanistan experienced. The following is just some of what is known about the kingdom’s abandonment of its fighters in Syria.”
“Arab Saudi khawatir akan kembalinya para jihadis yang tidak bisa mereka kontrol ke negaranya. Untuk itu, Arab Saudi menyiapkan dua opsi. Yang pertama adalah, jika para jihadis ini akan pulang kampung, maka pihak kemananan Saudi melalui kedubesnya di Turki, akan melakukan pencegahan. (Artinya, para jihadis ini akan ditahan di Turki dan tidak bisa kembali ke Arab Saudi – pen) . Kedua, para jihadis yang masih bertahan di Suriah akan diupayakan untuk ‘disebarkan’ di garis depan pertempuran. (Artinya, jihadis ini diskenariokan agar tewas di dalam pertempuran dengan Tentara Suriah, secara umum, yang berada di garis depan peluang tewasnya jauh lebih besar karena harus berhadapan langsung dengan lawan – pen). Kedua opsi itu, merupakan pertanda bahwa kini Arab Saudi tengah mengulangi apa yang telah pernah mereka lakukan di Afghanistan. Mendukung para jihadis, lalu mencampakkannya.”

Apakah kedua opsi dalam dekrit yang dikeluarkan tanggal 3 Februari tersebut merupakan pertanda bahwa kini mereka mulai bertindak rasional?

Para jihadis di Suriah, sudah tidak perlu lagi ditanyakan kekejamannya. Mungkin hanya di Suriah, di abad ini kita bisa menjumpai seorang manusia memakan hati manusia. Hanya di Suriah kita menemukan permainan sepak bola dengan menggunakan kepala manusia. Hanya di Suriah kita bisa menemukan kepala manusia tergeletak di atas alat pemanggang daging. Gerakan mereka tidak terkontrol, melindas habis nilai-nilai kemanusiaan dan cinta kasih, dan apakah yang akan terjadi jika manusia bengis ini harus kembali ke Arab Saudi? Ini terlalu beresiko dan berbahaya, dan karenanya, Arab Saudi memilih ‘membuang’ mereka.

Bagaimana dengan kondisi psikologis dari jihadis terhadap dekrit tersebut?

Ini memunculkan masalah baru. Mereka yang kecewa karena merasa dicampakkan, kemungkinan akan ‘balas dendam’ kepada kerajaan dengan melakukan aksi terror yang lebih ganas dan mematikan untuk menunjukkan kepada dunia internasional; ‘inilah teroris binaan Arab Saudi’, yang dengan sendirinya akan semakin memperburuk citra arab Saudi di mata dunia.

Dan pasca dikeluarkannya dekrit tersebut, Gedung Putih pun memberikan tanggapan yaitu kepastian kunjungan Obama ke Arab  pada bulan Maret mendatang. Dengan begitu, benar bahwa tekanan Amerika merupakan faktor  lain akan perubahan sikap Arab Saudi atas Suriah.

Pihak Amerika secara resmi menunjukkan bukti-bukti dukungan Arab Saudi dalam mendukung terorisme di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan bahkan Rusia. Berita buruknya, berkas itu sekarang dipegang oleh lembaga internasional, yang dapat menyebabkan kecaman di Dewan Keamanan PBB dan bisa saja akan menobatkan Arab Saudi sebagai state sponsor of global terrorism (negara pendukung terorisme global) yang mungkin akan berefek buruk terhadap kelangsungan rezim Saud.

Mungkinkah Arab Saudi benar-benar mengikuti keputusan Turki yang menarik dukungannya terhadap  pemberontak di Suriah, dan malah menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk memerangi terorisme? Atau mungkinkah rezim Saud ini sedang memainkan peran ganda? Di satu sisi sepertinya sudah bersikap seharusnya yaitu  keluar dari gelanggang konflik dan menghentikan dukungannya kepada para jihadis namun disaat yang sama di sisi lain tengah menyiapkan skenario yang lebih besar seperti yang pernah terjadi di Ghouta? Terlepas dari semua itu, Arab Saudi hari ini sudah cukup ketakutan jika kebrutalan jihadis didikan mereka di Suriah, akan melakukan hal yang sama di kerajaannya cepat atau lambat. Kita masih harus menunggu. 

Source :  
Al Akhbar.com
LiputanIslam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan pesan dan komentar anda...