Kamis, 06 Februari 2014

Ghibah, Pemakan Daging Busuk

daging-kadaluwarsa

Rasulullah saaw bersabda, “Pada malam aku di isra’-kan, aku melewati satu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka dengan kuku-kuku dan jemari mereka. Aku berkata, ‘wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu orang-orang yang melakukan ghibah terhadap manusia dan merusak kehormatan mereka.” (Ensiklopedi Mizan al-Hikmah jilid 3, hal. 433)

Ghibah artinya bergunjing atau menggosip, yaitu membicarakan keburukan (aib) orang lain pada saat ia tidak berada bersama orang-orang yang bergunjing, termasuk berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan akhlaknya, penampilan lahiriahnya, atau kepribadiannya. Ghibah tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi mencakup semua cara komunikasi, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun sikap.

Rasulullah saaw mendefenisikan ghibah melalui sabdanya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, jauhkanlah dirimu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih lebih berat dosanya dari zina.” Abu Dzar bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu ghibah? Rasul menjawab, “ucapanmu tentang saudaramu yang ia membencinya.” Abu Dzar berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana jika yang diucapkan itu sesuai kenyataan?” Rasulullah saaw menjawab, “Ketahuilah, mengatakan hal-hal yang ada pada saudaramu itulah ghibah. Sedangkan mengatakan hal-hal yang tidak ada pada saudaramu, itu adalah fitnah.” (Biharul Anwar jilid 77, hal. 89).


Ghibah merupakan perbuatan yang sangat tercela, yang mengandung banyak bahaya dan kerugian baik secara pribadi maupun bagi kehidupan sosial masyarakat. Di dalam al-Quran Allah swt mencela perilaku ghibah dengan menyamakannya seperti memakan daging busuk, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat/49 : 12)

Tentang dosa dan bahaya ghibah, Rasulullah saaw bersabda, “Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih berat daripada berzina.’ ‘Bagaimana bisa begitu ya Rasulullah?” tanya sahabat. Rasulullah saaw menjawab, ‘Karena seseorang yang berzina dan bertobat kepada Allah, maka Allah menerima tobatnya. Namun, ghibah tidak diampuni (oleh Allah) sampai orang yang dighibahnya memaafkannya.”

Rasulullah saaw juga bersabda, “Barangsiapa yang menghibah seorang muslim atau muslimah maka Allah tidak menerima salat dan puasanya selama empat puluh hari empat puluh malam, kecuali orang yang dighibah itu memaafkannya”

Imam Husain as berkata, “wahai fulan! Berhentilah menghibah, karena sesungguhnya hal itu adalah makanan anjing-anjing neraka.”  (Ensiklopedi Mizan al-Hikmah jilid 3, hal. 434)

Di dunia, orang yang melakukan ghibah akan mendapat kehinaan di sisi manusia dan sisi Allah swt. Ia akan dibenci oleh teman-temanya dan kelompok masyarakat.  Begitu pula, ghibah akan merusak kehidupan sosial, karena akan terjadi pencemaran nama baik orang beriman, sehingga menyebarlah penghinaan, ejekan, yang bisa menimbulkan pertengkaran dan permusuhan. Sedangkan di akhirat, orang yang melakukan ghibah  kelak dipermalukan dihadapan seluruh makhluk, ia akan memakan bangkai yang sangat busuk, atau ia akan memakan dagingnya sendiri, dan juga dirinya akan berubah menjadi anjing yang memakan daging busuk, atau ia akan menjadi santapan anjing-anjing neraka.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Orang yang menyebarluaskan suatu hal buruk tentang orang beriman dengan tujuan mempermalukan dan menghinakannya, Allah akan menjauhkannya dari penjagaan-Nya dan menyerahkannya kepada setan. Janganlah menggunjingkan orang lain agar orang lain tidak menggunjingkanmu. Janganlah menggali lubang untuk membuat saudaramu jatuh ke dalamnya, jangan sampai dirimu jatuh ke dalam lubang yang sama. Apabila engkau menyalahkan orang-orang lain, maka orang-orang lain tentu saja akan menyalahkanmu.”

Untuk itu, maka kepada kaum muslimin ditegaskan untuk menjauhkan diri dari perilaku ghibah (gosip, bergunjing, atau mengumpat) agar mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Jika ada orang yang sedang ber-ghibah, baik itu teman atau keluarga kita, hendaknya kita mengingatkan mereka atau meninggalkan mereka untuk meghindar sampai pembicaraan mereka berubah pada kebaikan. Sebab, Imam Ali as berkata, “orang yang mendengarkan ghibah, sama dengan orang yang ber-ghibah.”

Begitu pula, kita harus senantiasa menyadari dan mencamkan bahaya-bahaya ghibah di atas dan berusaha untuk berprasangka baik pada orang lain. Janganlah berteman dengan orang yang suka ber-ghibah, karena boleh jadi pada suatu hari nanti, diri kamu juga akan di-ghibah-kannya dihadapan orang lain. Karena itu, perhatikanlah keburukan, aib dan kekurangan-kekurangan diri sendiri, dan perhatikanlah kebaikan-kebaikan orang lain. Itulah di antara cara-cara untuk menghindarkan diri kita dari sifat ber-ghibah. “Barang siapa melakukan kebaikan bagi saudaranya dengan menolak ghibah ketika mendengarnya dalam suatu majelis, maka Allah akan menyelamatkannya dari seribu keburukan di dunia ini dan di akhirat”, begitu kita diingatkan oleh Rasulullah saaw. 

Source : LiputanIslam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan pesan dan komentar anda...