Kamis, 21 Mei 2015

TRADISI DUSTA FIRANDA KE-1: MENGINGKARI BUKTI ILMIAH


BUKAN FITNAH, TAPI BUKTI ILMIAH!
Oleh: Syaikh Idahram

Dusta Firanda ke-1, Firanda Andirja Abidin dalam bukunya berjudul Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah, Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahramberkata:[1]
Sungguh terlalu banyak fitnah dan tuduhan dusta yang telah dilontarkan kepada beliau (pendiri Wahabi, Ibnu Abdul Wahab). Di antara tuduhan yang santer ditempelkan kepada beliau, yaitu sebagai berikut:
a.     Tuduhan bahwasanya beliau telah mengkafirkan seluruh umat Islam yang tidak sepaham dengan beliau.[2]
Ternyata Firanda tidak jujur dengan apa yang telah dia baca dari buku-buku pendiri Salafi Wahabi, Ibnu Abdul Wahab. Padahal dirinya mengaku telah membaca buku-buku tersebut!
Mari kita buka bersama-sama buku-buku karya Ibnu Abdul Wahab, untuk membuktikan benarkah perkataan Firanda di atas, atau hanya dusta belaka:
1. Buku berjudul Muallafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibni Abdil Wahhab (tulisan-tulisan asy-Syaikh al-Imam Ibnu Abdul Wahab) yang disusun oleh Abdul Aziz ibnu Zaid dkk., diterbitkan oleh Universitas Muhammad ibnu Saud al-Islamiyah, Riyad, Saudi Arabia, pada halaman 186-187:
Di bawah ini hasil scan teksnya dari buku di atas:
  
“Bismillaahi r-rahmaani r-rahiim. Dari muhammad ibnu Abdul Wahab kepada orang Islam yang sampai kepadanya suratku ini. Salâmun ‘alaikum warahmatullâh wabarakâtuh...   
 
 


(lalu pada baris ke-15 Ibnu Abdul Wahab berkata, pen.) Aku beritahukan kepada kalian semua mengenai diriku. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku telah menuntut ilmu dan orang-orang yang mengenalku meyakini bahwa aku mempunyai ilmu ma’rifat. Aku pada waktu itu tidak mengetahui makna lâ ilâha illallâh (dengan benar), dan aku tidak mengetahui agama Islam (dengan benar) sebelum kebaikan yang Allah berikan ini. Begitu juga dengan guru-guruku tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahui itu. Maka siapa saja dari ulama yang telah ada (jika dia) mengklaim bahwa dirinya mengetahui makna lâ ilâha illallâh, ataupun (mengklaim) mengetahui makna Islam sebelum waktu ini, ataupun mengklaim salah seorang dari para gurunya mengetahui itu (yakni makna lâ ilâha illallâh), maka sesungguh orang itu telah berdusta, mengada-ada, dan mengelabui orang-orang, serta memuji diri sendiri dengan sesuatu yang tidak ada padanya.[1]
  2. Kitab ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah, berupa kumpulan tulisan-tulisan pendiri Wahabi dan ulama-ulamanya yang disusun oleh Abdurrahman ibnu Muhammad ibnu Qasim al-Hanbali an-Najdi, jilid 10, pada halaman 51:
   Kitab ad-Durar as-Saniyyah ini, dapat diunduh di alamat:

http://www.waqfeya.com/book.php?bid=7836
  
Gambar di bawah ini versi Maktabah Syamilahnya:




Inilah teks Ibnu Abdul Wahab dalam kitab ad-Durar as-Saniyyah yang isinya mengkafirkan banyak orang:



Aku beritahukan kepada kalian semua mengenai diriku. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku telah menuntut ilmu dan orang-orang yang mengenalku meyakini bahwa aku mempunyai ilmu ma’rifat. Aku pada waktu itu tidak mengetahui makna lâ ilâha illallâh (dengan benar), dan aku tidak mengetahui agama Islam (dengan benar) sebelum kebaikan yang Allah berikan ini. Begitu juga dengan guru-guruku tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahui itu. Maka siapa saja dari ulama yang telah ada (jika dia) mengklaim bahwa dirinya mengetahui makna lâ ilâha illallâh, ataupun (mengklaim) mengetahui makna Islam sebelum waktu ini, ataupun mengklaim salah seorang dari para gurunya mengetahui itu (yakni makna lâ ilâha illallâh), maka sesungguh orang itu telah berdusta, mengada-ada, dan mengelabui orang-orang, serta memuji diri sendiri dengan sesuatu yang tidak ada padanya.[1]
Pembaca budiman, apakah perkataan pendiri Wahabi di atas bukan bentuk pengkafiran kepada seluruh umat Islam yang tidak sepaham dengan beliau?! Sungguh itu pengkafiran nyata!
Dari perkataannya itu jelas, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan beberapa kesalahan fatal, di antaranya adalah:
a.   Mengaku hanya dirinya yang memahami konsep Tauhid dari kalimat lâ ilâha illallâh dan telah mengenal Islam dengan sempurna.
b.   Menuduh para ulama lain tidak memahami konsep Tauhid dan telah menyebarkan ajaran Islam secara sesat.
c.    Hanya dirinya yang mendapat anugerah khusus Ilahi itu, dan hanya dirinya pulalah yang berhak mendapat pujian, baik di dunia maupun di akhirat. Karena menurutnya, mustahil jika kebatilan akan memberikan keselamatan sejati di akhirat.
d.  Semua ulama dari sejak zaman Nabi s.a.w. sampai sebelum dirinya mendapat makrifat khusus –yakni selama 12 abad berlalu– adalah sesat dalam berakidah, sehingga mereka semua adalah orang-orang kafir karena tidak paham makna Lâ ilâha Illallaâh, termasuk juga dirinya sendiri adalah kafir sebebelum dia mendapat ilmu ma’rifat dari Allah.
Jika kita berpikir, masuk akalkah pernyataan pendiri Wahabi ini? Dia mengatakan, selama berabad-abad lamanya tidak ada seorang pun yang paham tentang makna lâ ilâha illallâh sampai dirinya datang, yang dengan itu dia mengkafirkan semua orang yang tidak sejalan dengannya. Tidak adakah satu ulama saja yang mengerti syahadat, baik sebelum dirinya maupun yang sezaman dengannya, yang rentang waktu itu sangatlah panjang? Tidak adakah satu pun ulama Mesir, Yaman, Syam (Palestina, yordania, Syiria, dan sekitarnya), Irak, Maghrib, atau yang lainnya?
Berarti para Sahabat Nabi s.a.w., Tabi’in, Tabi’ Tabi’in, dan ulama-ulama yang hidup setelahnya juga adalah sesat, hingga kedatangan Muhammad ibnu Abdul Wahab di abad ke 12 Masehi? Maasya Allaah! Juga berarti, seluruh masyarakat muslim baik dari kalangan ulamanya maupun dari kalangan awamnya adalah, kafir sebelum kedatangan dirinya?! Termasuk guru-gurunya dan para ulama terdahulu yang sudah mengamalkan Islam sebelum ajarannya timbul!
Jika begitu, sungguh ‘benar’ klaim Ibnu Abdul Wahab itu, karena memang para ulama terdahulu tidak pernah memiliki pemahaman menyimpang seperti pemahaman dirinya. Bukankah Nabi s.a.w. telah menjamin, umatnya secara umum tidak akan menjadi musyrik sebagaimana dalam sabdanya:
"إِنِّي أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ أَوْ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا." (رواه البخاري ومسلم وأحمد والبيهقي والطبراني وابن حبان وغيرهم)
Sesungguhnya aku telah diberikan berbagai kunci gudang-gudang dunia atau kunci-kunci dunia, dan sesungguhnya aku tidak takut (sama sekali) kalian akan musyrik setelahku, namun yang aku takutkan terhadap kalian adalah kalian memperebutkan dunia. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaqi, Thabarani Ibnu Hibban dan lainnya)[2]
لاَ تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ.” (رواه الترمذي والبيهقي وغيرهم)
“(Ulama) umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi, Baihaqi dan lainnya)[3]
Lalu, bagaimana mungkin para ulama Islam sepakat dalam kemusyrikan dan kekafiran seperti dakwaan Ibnu Abdul Wahab, yang itu sangat bertentangan dengan hadis Nabi s.a.w. di atas? Bahkan Nabi s.a.w. telah menjamin, umatnya tidak akan terjerumus ke dalam kemusyrikan global, sebagaimana tuduhan pendiri Wahabi bahwa, mayoritas umat Islam di dunia telah musyrik dan kafir kecuali paham yang diusung olehnya. Lantas jika begitu, ajaran siapakah yang diikuti oleh pendiri Salafi Wahabi?

BERSAMBUNG... 



[1] Muhammad ibnu Abdul Wahab dkk., ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah, disusun oleh Abdurrahman ibnu Muhammad ibnu Qasim al-Hanbali an-Najdi, Dar al-Qasim, jilid 10, cet. Ke-5, hal. 51.
[2] Shahih al-Bukhari, bab ash-Shalah ‘ala asy-Syahid 5/124 no. 1258, bab Ahad Yuhibbuna wa Nuhibbuh 12/487 no. 3776, bab Ma Yuhadzdzar min Zahrah ad-Dunya 20/52 no. 5946, bab fi al-Haudh 20/253 no. 6102. Shahih Muslim, bab Itsbat Haudh Nabiyyina 11/415 no. 4248, 4249. Musnad Ahmad, bab Hadits Uqbah ibnu ‘Amir al-Juhni 35/215 no. 16705, 266. al-Baihaqi, as-Sunan al-Qubra 4/14. Thabarani, al-Mu’jam al-Kabir bab 4, 12/243 no. 14185, 14188, 14189. Shahih Ibnu Hibban, bab Fashl fi asy-Syahid 13/393 no. 3267, 3268.
[3] Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan, Kerajaan Saudi Arabia, Ushul al-Iman fi Dhau`i al-Kitab wa As-Sunnah, tulisan sekumpulan ulama, cet. ke-1, www.al-islam.com, jilid 1 h. 395. Ibnu Taimiyah, Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim, cet. ke-7, Dar Alam al-Kutub 1419 H/1999 M. (Versi Maktabah Syamilah). Ahmad ibnu Athiyyah ibnu Ali al-Ghamidi, al-Baihaqi wa Mauqifuh mi al-Ilahiyyat, disertasi doktoral Kuliyah Syariah dan Islamic Studies Univ. King Abdul Aziz, diterbitkan oleh Bidang Kajian Ilmiah Jamiah Islamiyah Madinah, 1423 H/2992 M., h. 152.

[1] Muhammad ibnu Abdul Wahab, Muallafâtu sy-syeikh Muhammadi bni Abdil Wahhâb, disusun oleh Abdul Aziz ibnu Zaid ar-Rumi dkk, diterbitkan oleh Universitas Muhammad ibnu Saud al-Islamiyah, Riyadh, Saudi Arabia, jilid ke-7, pada bagian kelima: ar-Rasail asy-Syakhsiyyah, h. 186-187.

[1] Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Salafi Wahabi bernama Penerbit Naashirussunnah tahun 2012, tanpa alamat penerbit. Penerbit yang sama juga telah menerbitkan buku senada atas nama Majelis Ulama Indonesia dengan judul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” dengan tulisan di cover bagian atasnya “Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia”, juga tanpa alamat penerbit.
[2] Firanda Andirja Abidin, Sejarah Berdarah Sekte Syiah, Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram, Naashirusunnah, tanpa alamat penerbit, cet. Ke-1, 2012, hal. xvii.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan pesan dan komentar anda...