 |
| Gedung Putih mengumumkan bahwa keputusan Kongres Amerika Serikat
untuk memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia akan ditandatangani oleh
Presiden Barack Obama. |
Sanksi
berat yang pernah diloloskan oleh Kongres terhadap Rusia diprediksi akan
ditandatangani oleh Obama sampai akhir pekan ini.
RUU
tersebut menyasar sektor energi dan pertahanan Rusia. Para anggota
Kongres berharap langkah itu akan mencegah transaksi dan relokasi
peralatan militer Rusia ke wilayah Ukraina oleh perusahaan-perusahaan
terkait.
Rusia
sekarang berada di bawah tekanan setelah perekonomian negara itu
terpukul akibat dampak sanksi dan penurunan tajam harga minyak dunia.
Rubel Rusia dengan cepat terdepresiasi terhadap dolar dan euro selama
berbulan-bulan, berturut-turut memecahkan rekor bersejarah.
Bank Sentral Rusia melakukan beberapa intervensi untuk menghindari shock
di pasar modal. Bank Sentral akan menggunakan alat-alat lain untuk
mencegah penurunan rubel terus menerus. Mereka juga mengumumkan
pembatasan volume harian operasi devisa menjadi 350 juta dolar untuk
menstabilkan rubel.
Rusia
membutuhkan investasi Barat setelah masa-masa keruntuhan Uni Soviet dan
sekarang kedua pihak terlibat perseteruan mengenai masa depan Ukraina.
Barat berupaya menekan Moskow dengan menciptakan instabilitas dan
gangguan di pasar finansial Rusia sehingga negara itu menerima
keinginan-keinginan Barat.
Meski
upaya itu berpengaruh pada perekonomian Rusia, namun Moskow sampai
sekarang belum menunjukkan perubahan perilaku terkait krisis di Ukraina
dan memenuhi keinginan Barat. Dalam perspektif para pejabat Moskow,
kasus kemerdekaan Crimea dan keputusan mereka bergabung dengan Federasi
Rusia sudah tuntas dan sama sekali tidak ada instrumen yang bisa
mengembalikan situasi politik di wilayah strategis itu mundur ke
belakang.
Peringatan
para pejabat Rusia untuk mengambil tindakan balasan terhadap sanksi
baru Barat adalah indikasi dari dimulainya perang ekonomi di antara
kedua pihak dalam waktu dekat ini. Dalam pertempuran itu, Rusia juga
memiliki cara-cara yang patut dipertimbangkan. Sebagai contoh, Rusia
sampai sekarang belum menetapkan langkah spesifik untuk membatasi ekspor
energi ke Eropa.
Kebutuhan
utama energi Eropa dipasok dari Rusia dan jika tercipta perubahan dalam
proses ekspor minyak dan gas ke Eropa, maka pertumbuhan ekonomi
negara-negara Benua Hijau itu akan terganggu secara serius. Di samping
itu, Uni Eropa juga masih berkutat dengan krisis ekonomi.
Pasar
Rusia memiliki daya tarik luar biasa bagi para investor dan pebisnis
Eropa dan Amerika. Kehilangan pasar itu akan membawa kerugian besar dan
menghapus ratusan ribu lapangan kerja di negara-negara Eropa dan
Amerika.
Rusia
juga dapat bermitra dengan Cina dan India serta negara-negara anggota
BRICS sebagai pengganti mitra bisnis Barat. Selain itu, Rusia dalam
beberapa tahun terakhir telah membeli ratusan juta dolar surat utang
pemerintah AS atau saham perusahaan-perusahaan Barat.
Serangan
Barat terhadap sektor keuangan Rusia pada akhirnya bisa menciptakan
kerugian besar bagi kondisi finansial negara-negara Barat.
IRIB
Indonesia/RM